Rabu, 03 Oktober 2018

Pernikahan Usia Anak Masih Marak di Indonesia

Pernikahan Usia Anak Masih Marak di Indonesia


Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) bekerja sama dengan Badan Dunia untuk Anak (UNICEF) merilis laporan analisis data perkawinan usia anak pertama kalinya di Indonesia. Pada laporan tersebut, angka perkawinan usia anak atau di bawah 18 tahun di Indonesia masih tinggi, sekitar 23 persen.

Laporan perdana tersebut juga mengungkap Indonesia mengalami penurunan angka pernikahan anak yang cenderung stagnan. Analisis yang dilakukan pada 2015 itu mengungkap bahwa perempuan yang menikah sebelum 18 tahun hanya menurun tujuh persen dalam waktu tujuh tahun.

BPS juga mencatat bahwa angka kejadian atau prevalensi pernikahan anak lebih banyak terjadi di pedesaan dengan angka 27,11 persen, dibandingkan di perkotaan yang berada pada 17,09 persen.
Indonesia memang tengah memasuki fase peralihan untuk pembangunan. Namun di banyak tempat, masih banyak yang tertatih-tatih," kata M Sairi Hasbullah, Deputi Bidang Statistik Sosial BPS saat peluncuran laporan tersebut di Jakarta, pekan ini. 

“Salah satu yang tertatih adalah soal angka pernikahan usia anak di Indonesia yang masih 23 persen. Tergolong masih sangat tinggi," katanya.

Pernikahan usia anak bagi perempuan berdampak banyak hal. Menurut data, anak perempuan usia 10-14 tahun memiliki risiko lima kali lebih besar untuk meninggal dalam kasus kehamilan dan persalinan dibanding usia 20-24 tahun. 

Selain itu, banyak anak yang sudah menikah akan mengalami putus sekolah. Hal ini dapat menyebabkan semakin sempitnya peluang perempuan muda memperbaiki kesejahteraan. “Akhirnya memperpanjang masalah sosial yang sudah ada,” tambah Sairi.

Dari segi kesehatan, bayi yang dilahirkan oleh perempuan di bawah umur punya risiko kematian lebih besar. Bayi tersebut juga punya peluang meninggal dua kali lipat sebelum mencapai usia satu tahun.

Secara nasional, BPS menulis pernikahan usia anak mengalami penurunan secara bertahap dari 33 persen pada 1985 menjadi 26 persen pada 2010. Namun, meski mengalami kemajuan, di sepuluh dekade terakhir, dari 2000 hingga 2010, BPS dan UNICEF menilai bahwa prevalensi pernikahan usia anak relatif konstan.

Saat ini di dunia, tercatat sebanyak lebih dari 700 juta perempuan menikah ketika mereka belum menginjak 18 tahun. Sedangkan di kawasan Asia Pasifik, sebanyak 16 persen perempuan telah menikah sebelum dianggap pantas secara biologis.

Sedangkan di Indonesia, BPS dan UNICEF yang menggunakan data Susenas 2008-2012 dan Sensus Penduduk 2010, mencatat sekitar 340 ribu anak perempuan di bawah 18 tahun menikah setiap tahunnya. Peningkatan terjadi pada perempuan usia antara 15 hingga 18 tahun.

"Perkawinan anak di bawah usia 15 tahun mungkin tidak mencerminkan prevalensi sesungguhnya karena banyak dari perkawinan ini tersamarkan sebagai perkawinan anak perempuan di atas 16 tahun atau tidak terdaftar," ungkap laporan tersebut. 

BPS dan UNICEF dalam laporannya merekomendasikan lima tindakan guna memastikan penurunan angka pernikahan usia anak. Pertama, meningkatkan intervensi perlindungan anak perempuan 15-17 tahun dengan fokus utama penyelesaian sekolah menengah.

Kedua, BPS dan UNICEF merekomendasikan untuk menangani norma sosial dan budaya yang menerima atau melestarikan praktik menikah di bawah usia melalui orang tua, guru, keluarga, dan tokoh agama. Ketiga, memberikan akses pendidikan tinggi kepada anak-anak guna menangani masalah kerentanan ekonomi.

Dan BPS serta UNICEF meminta pemberian kebijakan dengan berpusat pada daerah dengan prevalensi pernikahan usia anak yang tinggi. Lalu, riset lebih lanjut dinilai BPS dan UNICEF diperlukan. (les)

sumber : www.cnnindonesia

Selasa, 02 Oktober 2018

Jumlah korban meninggal dunia gempa-tsunami Palu lebih dari 1450 orang. Serta Bantuan Internasional


"Innalillahi wainnailahi rojiun, turut berduka atas gempa dan Tsunami yang menimpa saudra-saudara kita di Doggala, Palu dan sekitarnya pada Jum'at malam (28/9). Dan berikut merupakan kondisi saat ini, selasa 2/10)"



Data terbaru BNPB menunjukkan, korban tewas sudah mencapai setidaknya 1492 orang, termasuk 34 pelajar yang ditemukan meninggal dunia di bawah reruntuhan gereja di Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, pada Selasa (1/10).
Para korban, menurut juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, berasal dari Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Parigi Moutong.

"Namun kita memilah korban berdasarkan kabupaten, sulit. Karena tim SAR gabungan ketika mendapat jenazah, langsung dibawa ke rumah sakit. Dan rumah sakit ada di Palu," kata Sutopo, dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (2/10) siang.

Di antara para korban meninggal dunia terdapat 34 pelajar yang ditemukan di bawah reruntuhan gereja di Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, pada Selasa (1/10).
Saat ini, sejumlah relawan masih berupaya mengevakuasi ke-34 jenazah tersebut.
"Kondisi lumpur di daerah itu begitu parah. Kami harus berjalan sekitar 1,5 jam untuk mencapai (area longsor) sehingga upayanya amat sulit," kata Ridwan Sobri, juru bicara Palang Merah Indonesia kepada BBC.
Dia menambahkan, identitas dan usia para pelajar belum dapat dikonfirmasi.
PMI, sebagaimana dilaporkan kantor berita AFP, semula mendapat laporan bahwa ada 86 pelajar yang hilang saat mengikuti acara pendalaman Alkitab di Gereja Jonooge, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.
Belum jelas, apakah 34 jenazah yang ditemukan di bawah reruntuhan gereja merupakan bagian dari 86 pelajar yang dilaporkan hilang.



Kecamatan Sigi Biromaru berjarak sekitar 20 kilometer sebelah selatan Kota Palu. Jika kondisi jalan normal, kecamatan tersebut dapat dijangkau menggunakan kendaraan bermotor dari Kota Palu kurang dari satu jam.
Akan tetapi, gempa-tsunami yang melanda Kota Palu dan sekitarnya menyebabkan sejumlah jalan rusak dan tidak bisa diakses. Pasokan listrik terhenti dan jaringan telekomunikasi lumpuh.
Jumlah korban sangat mungkin bertambah lantaran banyak yang belum bisa dievakuasi dari reruntuhan bangunan. Data dari daerah lainnya, seperti Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Parigi Moutong belum diproleh secara lancar kendati sudah mulai bisa dijangkau, lantaran kerusakan infrastruktur.


Bantuan internasional: terutama angkutan udara 


Belasan negara sudah menawarkan bantuan kepada Indonesia dalam menangani bencana Palu-Donggala.
"Semua bantuan akan disampaikan dan dicatat secara trtulis. Dan yang paling utama kita butuhkan adalah angkutan udara," kata Menteri Koordinator Bidang
Angkutan udara itu yang dibutuhkan itu adalah jenis Hercules C130, untuk mengangkut bantuan kemanusiaan dan para penyintas yang perlu dievakuasi dari kawasan terdampak.
"Kita minta bantuan pesawat C130. Pesawat jenis itu yang bisa mendarat dan take off di Bandara Mutiara Sis Al-Juffri. Dan Jumlah pesawat C130 kita terbatas," ujar Wiranto.
Antara

Bandara di Palu itu memiliki landas pacu 2400 meter, dan sebagian di antaranya rusak trbelah, sehingga tak banyak jenis pesawat yang bisa mendarat dan tinggal landas di sana.
Disebut Wiranto sudah ada lima negara negara yang bersedia mengirimkan pesawat C130, yakni Singapura, Malaysia, India, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.
Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto dalam jumpa pers Selasa (2/10),
(Sumber : www.bbc.com/indonesia/indonesia-45715440 )
Dalam sekejap, mereka kehilangan banyak hal. Banyak orang tua kehilangan anaknya, maupun anak yang kehilangan orang tuanya. Tapi satu hal yang jangan sampai hilang : Semangat mereka!
Semoga mereka diberi kekuatan untuk menghadapi ini semua. Maka dari itu, mari kita bantu, dan doakan saudara kita di Donggala, Palu, dan sekitarnya. 


Pernikahan Usia Anak Masih Marak di Indonesia

Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) bekerja sama dengan Badan Dunia untuk Anak (UNICEF) merilis laporan analisis data...