Minggu, 30 September 2018

Waspada 7 Bahaya Penggunaan Gadjet Pada Anak

Bahaya Penggunaan Gadget 

Pada anak yang harus

diwaspadai orangtua


Sebagai orang tua harus memperhatikan anak anak untuk tidak membiasakan menggunakan gadjet sejak dini. karena akan berakibat fatal. berikut 7 bahaya penggunaan gadjet pada anak :

1. Mengganggu pertumbuhan otak anak

Pada usia 0-2 tahun, otak anak bertumbuh dengan cepat hingga dia berusia 21 tahun. Perkembangan otak anak sejak dini dipengaruhi oleh stimulasi lingkungan.
Stimulasi berlebih dari gadget (hp, internet, tv, ipad, dll) pada otak anak yang sedang berkembang, dapat menyebabkan keterlambatan koginitif, gangguan dalam proses belajar, tantrum, meningkatkan sifat impulsif, serta menurunnya kemampuan anak untuk mandiri.

2. Tumbuh kembang yang lambat

Bahaya penggunaan gadget pada anak, juga membatasi gerak fisiknya. Yang membuat tumbuh kembang fisik anak menjadi terlambat. Paparan teknologi sejak dini juga memengaruhi kemampuan literasi dan prestasi akademik anak secara negatif.

3. Kelainan mental

Penelitian di Bristol University  tahun 2010 mengungkapkan, bahaya penggunaan gadget pada anak dapat meningkatkan risiko depresi, gangguan kecemasan, kurang atensi, autisme, kelainan bipolar, psikosis, dan perilaku bermasalah lainnya.

4. Sifat agresif

Konten di media yang bisa diakses anak, dapat menimbulkan sifat agresif pada anak. Kekerasan fisik dan seksual banyak tersebar di internet, dan jika tidak dilakukan pengawasan, anak bisa terpapar itu semua. Sehingga memicu timbulnya perilaku agresif dan cenderung menyerang orang lain pada anak.

5. Kecanduan

Ketika orangtua terlalu bergantung pada teknologi, mereka akan semakin jauh dari anak. Untuk mengisi kekosongan ikatan dengan orangtua, anak juga mulai mencari penghiburan dari gadget, yang pada akhirnya membuat mereka kecanduan teknologi, dan tidak bisa lepas darinya.

6. Pikun digital

Kecepatan konten di media, membuat anak memiliki attention span yang pendek. Dia jadi tidak fokus pada satu hal, dan mudah berganti fokus. Hal ini menurunkan kemampuan konsentrasi dan memori. Sehingga membuat anak susah memusatkan perhatian.
Hal ini memicu kondisi yang disebut pikun digital, karena anak yang terpapar teknologi terlalu banyak, tidak bisa memusatkan perhatian, imbasnya dia menjadi kesulitan belajar.

7. Radiasi emisi

Pada bulan Mei 2011, WHO memasukkan ponsel dan gadget tanpa kabel lainnya dalam kategori Risiko 2B (penyebab kemungkinan kanker), karena radiasi emisi yang dikeluarkan oleh alat tersebut.
James McNamee dari Lembaga Kesehatan Kanada, memberi peringatan pada 2011 lalu:
“Anak-anak lebih sensitif terhadap radiasi dibanding orang dewasa. Karena otak anak dan sistem imun mereka masih berkembang. Jadi, kita tidak bisa mengatakan bahwa risiko pada anak sama dengan risiko pada orang dewasa.”

Memberikan gadget pada anak memang jalan termudah untuk membuatnya diam, sehingga kita tidak terlalu repot menjaganya. Namun, setelah mengetahui bahaya penggunaan gadget pada anak ini, tentu orangtua tidak ingin  membiarkan tumbuh kembangnya terganggu karena paparan teknologi yang berlebihan.
Mari bijak menggunakan teknologi, dan biarkan anak berkembang dengan baik tanpa hambatan:))

Waspada Cacing Pita Dalam Sarden

Akhir akhir ini warganet di hebohkan oleh adanya berita mengenai cacing pita yang terdapat di dalam sarden. apa itu benar ada nya? disini saya akan membahas mengenai benar atau tidak adanya cacing didalam makanan kaleng ikan atau yang biasa kenal dengan sarden. yuk simak penjelasannya..😉



Temuan ini jelas mengkhawatirkan. Seperti yang sudah diberitkan Tempo.co bahwa Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Kota Pekanbaru telah mengungkap hasil uji laboratorium. Mereka menyebutkan ada ada tiga produk impor ikan sarden kaleng yang terbukti mengandung cacing, yaitu merek IO, Farmer Jack, dan HOKI.
 Heboh sarden bercacing, kata dokter: "Itu bukan cacing pita"
Sementara, Pemerintah Kota Batam, Kepulauan Riau, mengatakan bahwa mereka masih membentuk tim untuk menyelidiki lebih lanjut produksi sarden mackerel.
Dikutip dari laman Republika.co.id , Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad di Batam mengatakan, “Saya minta tim melakukan investigasi, pendalaman terhadap produksi yang bersangkutan terindikasi ada cacingnya.”
Ia menerangkan, selama ini BPOM sudah melakukan pengawasan secara rutin terhadap produksi makanan dengan mengambil contoh dari makanan yang sudah diedarkan. Namun, sampai saat ini belum diketahui apakah cacing dalam sarden juga beredar di Batam.
Pemberitaan cacing dalam kemasan kaleng sarden mackerel ini memang sudah merebak di sosial media. Pertama kali mencuat di Kota Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, kemudian menyusul kasus serupa di Kota Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti.
Kasus ini pun telah membuat BPOM segera berkoordinasi dengan dinas kesehatan di lokasi tersebut untuk mengambil sampel produk guna diperiksa di laboratorium.

Jadi cacing apa yang terdapat dalam sarden kalengan ini?

 Heboh sarden bercacing, kata dokter: "Itu bukan cacing pita"
Dikutip dari Merdeka.com, Kepala BBPOM Pekanbaru, M Kashuri, mengatakan bahwa cacing dalam sarden tersebut tersebut bukanlah jenis cacing pita, melainkan jenisnya cacing Anisakis SP, yang bisa menimbulkan alergi bagi orang yang mengonsumsinya.
Sementara drh. Supriyanto MVPH, selaku dokter hewan (drh) dari Yogyakarta menjelaskan pada Surabayapost.id menjelaskan bahwa cacing yang ditemukan dalam kemasan ikan sarden sebenarnya bukanlah cacing pita, namun jenis cacing gilig nematoda yang biasanya dari golongan Anisakis sp.
Jenis cacing tersebut memang bisa ditemukan pada ikan. Ada beberapa jenis ikan laut yang bisa mengandung cacing di dalamnya, dan bukan hanya pada jenis ikan mackarel, tapi tuna, salmon, dan lain-lain. Namun, tidak semua ikan mengandung parasit.
Terkait dengan kasus cacing dalam sarden yang kian marak ini memang bisa saja terjadi. Di mana ikan yang telah mengandung cacing atau parasit di dalamnya kemudian diproses dan dipacking. Proses pemanasan suhu tinggi, pemasakan, pendinginan sampai suhu beku dan pengalengan seharusnya bisa membunuh parasit tersebut. Tapi jika tidak dilakukan dengan cara sempurna  akan menyebabkan parasit tersebut hidup.
Lebih lanjut, ia menjelaskan kalau adanya cacing dalam ikan ini berisiko jika dikonsumsi. Termasuk jenis anisakis yang masih hidup dan infektif karena bisa menyebabkan peradangan akut pada saluran cerna bahkan meningitis.
“Infeksi cacing paling sering terjadi karena makan ikan mentah, seperti sushi dan sejenisnya. Terutama pada ikan yang terinfeksi parasit,” jelasnya pada SurabayaPost.id
Meskipun begitu, drh. Supriyanto mengingatkan agar Parents tidak perlu khawatir berlebihan dengan adanya kasus ini. Pasalnya, tidak semua ikan ada parasitnya.
“Namun harus saya katakan bahwa makan ikan mentah memang sangat berisiko. Perlu diketahui, biasanya sushi salmon atau tuna sudah dilakukan perlakuan pendinginan sampai beku, sehingga parasitnya mati.”
drh. Supriyanto menambahkan, “Yang jelas perlu dilakukan penelitian terhadap mutu kualitas ikan yang akan dan telah beredar di wilayah kita. Penelitian juga perlu dilakukan pada asal ikan karena hanya daerah laut tertentu yang ada parasitnya.”
Jadi, tidak bisa dipungkiri, di tengah padatnya aktivitas, ada kalanya Bunda memilih untuk menyajikan makanan yang cukup praktis pengolahannya seperti sarden mackerel. untuk itu kita harus menjadi konsumen yang pintar memilih dengan baik sebelum membeli😊


Bahaya Mengkonsumsi MSG Berlebih

Hallo temen-temen. Gimana nih kabar kalian hari ini? Apa kalian salah satu generasi micin saat ini? hahaha. Eh, tunggu dulu.. Kenapa sih saya bahas masalah micin. Micin (msg) itu apa sih? kenapa sih di jaman sekarang anak anak muda yang sifat atau kepribadiannya aneh di sebut generasi micin? aneh disini maksudnya kepribadian yang ga wajar di usia nya guys. Misalnya banyak anak jaman sekarang yang melakukan hal yang bodoh karena nggak berfikir terlebih dahulu, atau banyak yang bilang bahwa mereka terlalu banyak mengkonsumsi pengedap rasa. Sehingga, anak-anak jaman sekarang 'tidak memakai otak dalam bertindak' jadi......

Apa itu MSG? atau yang biasa kita kenal MICIN?

MSG (Monosodium Glutamat) atau lebih dikenal vetsin, adalah salah satu bahan tambahan makanan yang digunakan untuk menghasilkan flafour atau cita rasa yang lebih enak dan lebih nyaman ke dalam masakan, banyak menimbulkan kontroversi baik bagi para produsen maupun konsumen pangan karena beberapa bagian masyarakat percaya bahwa bila mengkonsumsi makanan yang mengandung MSG, mereka sering menunjukkan gejala-gejala alergi. Di Cina gejala alergi ini dikenal dengan nama Chinese Restaurant Syndrome (CRS).
Beberapa laporan menyatakan bahwa orang-orang yang makan di restoran Cina, setelah pulang timbul gejala-gejala alergi sebagai berikut: mula-mula terasa kesemutan pada punggung dan leher, bagian rahang bawah, lengan serta punggung lengan menjadi panas, juga gejala-gejala lain seperti wajah berkeringat, sesak dada dan pusing kepala akibat mengkonsumsi MSG berlebihan. Gejala-gejala ini mula-mula ditemukan oleh seorang dokter Cina yang bernama Ho Man Kwok pada tahun 1968 yaitu timbulnya gejala-gejala tertentu setelah kira-kira 20 sampai 30 menit konsumen menyantap makanan di restoran China.
Komisi penasehat FDA (FDA”s Advisory Committee) bidang Hypersensitivity to Food Constituents dari hasil penelitiannya melaporkan 2 hal mengenai gejala CRS tersebut yaitu: MSG dicurigai sebagai penyebab CRS dan pada saat itu ditemukan bahwa ternyata hidangan sup itulah yang dianggap sebagai penyebab utama timbulnya gejala CRS tersebut.
Kesimpulan Komisi Penasihat FDA terhadap penelitian tersebut yaitu MSG tidak mempunyai potensi untuk mengancam kesehatan masyarakat umum tetapi reaksi hipersensitif atau alergi akibat mengkonsumsi MSG memang dapat terjadi pada sebagian kecil masyarakat. Ambang batas MSG untuk manusia adalah 2 sampai 3 g, dan dengan dosis lebih dari 5 g maka gejala alergi (CRS) akan muncul dengan kemungkinan 30 persen.
Penggunan vetsin (MSG) dalam beberapa jenis makanan bayi yang dipasarkan dalam bentuk bubur halus, yang dikenal sebagai baby Foods sesungguhnya dilakukan hanya untuk memikat konsumen (ibu-ibu) oleh rasa lezat. Sedangkan pengaruhnya terhadap makanan, vetsin tidak akan menambah gizi maupun selera makan bagi bayi karena bayi tidak begitu peduli oleh rasa.
Berikut contoh produk penyedap ber-MSG yang beredar di pasaran
Dari hasil penelitian Dr. John Alney dari fakultas Kedokteran Universitas Washington, St. Louis pada tahun 1969 menunjukkan bahwa penggunaan vetsin dalam dosis yang tinggi (0,5 mg/kg berat badan setiap hari atau lebih) diberikan sebagai makanan kepada bayi-bayi tikus putih menimbulkan kerusakan beberapa sel syaraf di dalam bagian otak yang disebut Hypothalamus. Bagian otak inilah yang bertanggung jawab menjadi pusat pengendalian selera makan, suhu dan fungsi lainnya yang penting.
Bagi ibu-ibu yang sedang mengandung dan mengkonsumsi MSG dalam jumlah besar, di dalam plasentanya ternyata ditemukan MSG dua kali lebih banyak dibanding dalam serum darah ibunya. Hal ini berarti jabang bayi mendapat masukan MSG dua kali lebih besar.
Percobaan terhadap vetsin dari segi gizi dan rasa bagi bayi tidak ada gunanya, maka penghindaran pemakaian dan konsumsi MSG bagi bayi dan ibu mengandung perlu diperhatikan, dikurangi atau bila perlu dicegah.
Mengapa Tidak Baik Mengkonsumsi MSG Berlebihan?
Sejak ditemukannya asam glutamat atau yang sering disebut dengan MSG (Monosodium Glutamat) pada tahun 1940, asam glutamat telah digunakan di berbagai macam jenis produk makanan di berbagai negara, khususnya dalam kurun waktu 40 tahun terakhir. Asam glutamat merupakan salah satu dari 20 asam amino yang ditemukan pada protein dan MSG merupakan monomer dari asam glutamat. MSG memberikan rasa gurih dan nikmat pada berbagai macam masakan, walaupun masakan itu sebenarnya tidak memberikan rasa gurih yang berarti. Penambahan MSG ini membuat masakan seperti daging, sayur, sup berasa lebih nikmat dan gurih. MSG dijual dalam berbagai bentuk produk dan kemasan, produk penyedap rasa seperti Ajinomoto atau Royco mengandung MSG sebagai salah satu bahan penyedap rasa. Produk makanan siap saji, makanan beku maupun makanan kaleng juga mengandung MSG dalam jumlah yang cukup besar. Selain lada dan garam, botol berlabel penyedap rasa yang mengandung MSG juga dapat dengan mudah ditemukan di rak bumbu dapur maupun di atas meja restoran. Umumnya, Restoran Cina banyak menggunakan MSG untuk menyedapkan masakan-masakannya.
Walaupun sebagian besar orang dapat mengkonsumsi MSG tanpa masalah, beberapa orang memiliki alergi bila mengkonsumsi berlebihan yaitu gejala seperti pening, mati rasa yang menjalar dari rahang sampai belakang leher, sesak nafas dan keringat dingin. Secara umum, gejala-gejala ini dikenal dengan nama sindrom restoran cina.
Di dalam otak, enzim mengkatalis dekarbosilasi asam glutamat menjadi gamma-asam aminobutrat :
Asam glutamat dan gamma-asam aminobutrat mempengaruhi transmisi signal didalam otak. Asam glutamat meningkatkan transmisi signal dalam otak, sementara gamma-asam aminobutrat menurunkannya. Oleh karenanya, mengkonsumsi MSG berlebihan pada beberapa individu dapat merusak kesetimbangan antara peningkatan dan penurunan transmisi signal dalam otak. Oleh karena itu, pada akhir tahun 1970, perusahaan-perusahaan makanan bayi bersepakat untuk tidak memasukkan unsur MSG ke produk-produk makanan bayi.

Nah, jadi kita tahu bahwa menggunakan msg dalam makanan untuk jumlah yang berlebihan dapat merusak kesetimbangan dan penurunan transmisi signal otak. Apalagi untuk ibu hamil, sangat tidak di anjurkan untuk mengkonsumsi msg berlebih karena dapat merusak otak janin yang di kandungnya. so, save the young generation from msg!!!

Pernikahan Usia Anak Masih Marak di Indonesia

Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) bekerja sama dengan Badan Dunia untuk Anak (UNICEF) merilis laporan analisis data...